Kisah Anak Transmigran, menjadi Anak Kejaksaan

Masih dalam berbagi cerita, dan kali ini cerita dari seorang anak transmigran menjadi seorang anak kejaksaan, dari Kota Pahlawan.

Ilustrasi anak sekolah
Berbagi cerita

DARI ANAK TRANSMIGRAN, MENJADI ANAK KEJAKSAAN

Dulu sekali seingat saya, saya SD (Sekolah Dasar) kelas 5. Tiba-tiba ada segerombol orang berpakaian rapi bersepatu membawa tas dokumen dan seperti orang kaya mendatangi rumah nenek saya di Madiun.

Saya pikir saya mau diadopsikan orang tua saya ke orang kaya tersebut. Mirip seperti di Film tv-tv. Hehe

Ternyata setelah saya mencoba menguping (mendengarkan dari kejauhan) pembicaraan mereka, orang tua saya ditawari tanah 2 Ha, rumah siap pakai, jatah hidup selama 1 atau 2 tahun, dan itu semua gratis. Syaratnya “mari ikut program pemerintah kami untuk transmigrasi ke Kalimantan”, katanya.

Selang beberapa menit saat orang berseragam tadi diskusi sambil menyeruput kopi buatan “mak” saya, beliau menyapa saya sambil bilang “nanti kamu bisa sekolah sampai tinggi secara gratis”.

Sontak hati saya berbinar karena memang keluarga saya tergolong keluarga “kurang mampu”. Jangankan untuk sekolah, makan saja agak susah.

Singkat cerita, akhirnya berangkatlah kami ke Kalimantan Selatan. Tepatnya Kabupaten. Barito Kuala, Kecamatan Cerbon, UPT Sawahan.

Di jemput Bis, untuk naik Kapal laut pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Ternyata banyak teman kami berkeluarga yang mengikuti program ini.

Sampai UPT Sawahan, ternyata kondisi jalan dan rumah tanpa penerangan sama sekali. Mana malam lagi sampai UPT. Akses jalan susah.

Dan, yang paling susah adalah beradaptasi dari suasana kota ke lingkungan hutan yang notabene nya jauh dari tempat umum atau pasar.

Kami lalui waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun.

Aktivitas kami, bapak ibu cocok tanam padi, karet, sawit di tanah 2 Ha yang dijanjikan oleh pemerintah. Kami sekeluarga berempat. Adik saya berumur 3 tahun dan saya sekolah.

Berbicara mengenai sekolah, lokasi tempat sekolah saya jauh sekali. Mau menangis, mau menyerah rasanya untuk sekolah. Apalagi bersepeda pancal. Sekitar 15 km lebih malah. Dalam benak saya, memang saya harus berjuang.

Saat sekolah saya selalu peringkat 1 (satu). Untuk sekolah menengah atas saya sekolah di SMKN 1 Marabahan jurusan Administrasi Perkantoran.

Lalu yang mengejutkan lagi, saya di tawari beasiswa PPSBKT “Program Penjaringan Siswa Berpotensi di Kawasan Transmigrasi” oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, supaya ikut daftar.

Singkat cerita saya, kemudian saya diterima beasiswa tersebut dan kuliah di Unsoed (Universitas Djenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah), 3 th jurusan D3 Kesekretariatan.

Alhamdulillah, saat ada pembukaan pendaftaran CPNS 2021 ini, saya ikut mendaftar di Instansi Kejaksaan RI, dan Lolos untuk bergabung dengan Keluarga Adhyaksa.

Terima kasih Transmigrasi ku. Berkatmu, Bapak saya bisa mencari nafkah untuk keluarga dan menyekolahkan saya hingga perguruan tinggi dan mendapatkan apa yang saya cita-citakan.

Demikian, semoga cerita dan pengalaman ini ada manfaatnya bagi warga PATRI seluruh Indonesia.

Kota Pahlawan, 05/03/2022
Irwaning Tyas

diuanggah oleh Eswede Weanind dari Hasprabu Lurah DPP PATRI
editor Lik Kasjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.