ADA CINTA DI BALIK RASA 12 |
(Tien Kumalasari)
Anjani terkejut melihat reaksi ibu tirinya. Hanya bertanya, mengapa sang ibu menjadi semarah itu? Mata tajamnya menatapnya seperti semburan api yang mengguyur seluruh tubuhnya. Anjani mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Maaf Bu, Jani kan hanya_”
“Kamu tidak mempercayai aku?” potongnya masih dengan tatapan marah.
“Jani hanya bertanya saja,” katanya lirih.
“Pertanyaan konyol. Untuk apa kamu bertanya? Kamu tidak mempercayai aku? Kamu mengira aku menghabiskan uang pemberian orang baik itu untuk keperluanku sendiri?”
“Bukan begitu Bu. Jani hanya ingin tahu, berapa banyak pak Usman membiayai pengobatan bapak.”
“Untuk apa kamu bertanya, kalau bukan untuk mencurigai aku?”
“Ibu terlalu berlebihan. Jani hanya ingin tahu, dan kalau mungkin bisa menggantinya.”
Mendengar perkataan Anjani, Estiana semakin menjadi marah.
“Apa kamu bermimpi? Uang sepuluh juta saja kita tidak punya, bagaimana bisa mengganti uang nak Usman yang sudah dikeluarkan untuk kita? Kamu pikir, seandainya kamu bisa, kebaikan seseorang itu bisa dibayar dengan uang?” katanya sengit, sok bijak.
“Ibu ….”
“Kalaupun kita mengembalikan uangnya, kita juga harus membalas kebaikannya, dan itu tidak bisa kita bayar dengan uang. Mengerti kamu? Baiklah kalau kamu tetap ingin tahu. Bagaimana kalau tigaratus juta? Itu bisa juga lebih, aku tidak mau menghitung-hitung. Lalu kamu akan mengembalikannya? Dan kamu akan menganggap kamu bisa melunasinya? Kamu pikir dia menghutangkan uangnya untuk kita? Lalu dengan mengembalikannya, maka semuanya selesai? Kebaikan itu tidak bisa dibayar dengan uang, tapi dengan perbuatan dan keikhlasan. Satu-satunya yang bisa membalasnya adalah, apabila kita mebuatnya senang. Bagaimana cara membuatnya senang, ya dengan memberikan apa yang dia inginkan. Dia menginginkan kamu, jadi lakukanlah,” katanya panjang lebar, seperti merasa bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah ungkapan bijak.
Anjani ingin membuka mulutnya lagi, tapi sang ibu sudah berdiri dan beranjak ke kamar tamu, lalu menutupnya dengan keras. Bukan ke kamar di mana suaminya tidur. Berlinang air mata Anjani.
“Jadi benar-benar, hanya dengan menyerahkan tubuhku maka hutang itu terbayarkan?” bisiknya pilu.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar ayahnya terbuka, lalu sebuah langkah pelan mendekat ke arah Anjani. Anjani buru buru mengusap matanya yang basah.
“Bapak sudah bangun?”
“Apa yang terjadi? Berisik sekali.”
“Tidak apa-apa Pak, saya ambilkan minuman hangat ya.”
“Tidak usah, bapak sudah minum, dan berkali-kali ke kamar mandi.”
Marjono duduk di samping Anjani.
“Apa ibumu marah-marah?”
“Tidak, mengapa Bapak mengira begitu?”
“Bapak mendengar suaranya keras sekali, seperti sedang marah.”
“Tidak marah. Kami sedang menghitung belanjaan, ibu mau belanja besok pagi,” kata Anjani sekenanya.
“Apa benar, begitu?”
“Iya. Bapak mau makan?”
“Bukankah tadi sudah makan?”
“Barangkali masih ingin makan. Seperti Anjani, biasanya kalau bangun tidur pasti merasa lapar. Untunglah badan Anjani tidak menjadi gemuk,” kata Anjani sambil bercanda.
“Kamu tidak akan menjadi gemuk, karena selalu memikirkan bapakmu ini. Ya kan?”
Anjani tertawa sambil merebahkan kepalanya di pangkuan ayahnya.
“Bapak ada-ada saja. Anjani senang kalau Bapak semakin sehat. Pastilah kalau Anjani memikirkan kesehatan Bapak, tapi melihat keadaan Bapak yang baik-baik saja, Anjani merasa senang.”
Marjono mengelus kepala anaknya.
“Pak, nanti sore Anjani mau pergi sebentar.”
“Mau ke mana?”
“Mau ketemu teman, yang sudah lama tidak bertemu.”
“Apakah dia seorang laki-laki?”
“Ya, dia teman Anjani semasa kecil.”
“Ini ada hubungannya dengan gelang mote itu?”
Anjani mengangkat kepalanya, dan duduk kembali.
“Kami baru saja ketemu. Anjani sangat senang. Gelang mote itu sudah dibawanya. Ke dua-duanya.”
“Jadi ketika hilang, dia juga yang menemukannya?”
“Bukan. Orang lain.”
“Apa kamu suka, pada dia?” kata-kata ayahnya ini sangat mengejutkannya. Suka pada Jatmiko? Lalu wajah tampan itu terbayang. Senyumnya yang menawan, matanya yang menatapnya tajam, agak sulit dilupakannya. Tapi apa itu tandanya suka, atau bahkan cinta? Wajah Anjani memerah.
“Kamu suka?”
Tapi Anjani menggeleng dengan lemah. Sebelah hidupnya sudah tergadai, entah bagaimana cara menebusnya. Kalau dia mengaku suka pada Jatmiko, sang ayah pasti akan merasa sedih. Bukankah dia pernah mengatakan bahwa dia suka pada Usman?
“Kalau suka, bilang suka, jangan malu-malu,” goda sang ayah.
Tapi dengan menguatkan hatinya, Anjani mengingatkan pada ayahnya bahwa sudah ada yang dia sukai.
Marjono mengerutkan keningnya. Wajah Usman melintas, membuatnya kesal.
“Kamu serius, menyukai laki-laki tua itu?”
“Bapak meragukannya?”
“Tentu saja. Di mana-mana orang pasti memilih yang terbaik untuk hidupnya. Menurutmu apakah dia yang terbaik?”
“Setidaknya dia bisa memenuhi semua yang Jani inginkan.”
Tapi Marjono lagi-lagi menatap wajah putrinya yang muram dibalik senyum yang diulaskannya. Marjono bukan anak kecil. Ia sudah sangat berumur untuk bisa menangkap isi hati seseorang, apalagi seseorang itu adalah anaknya.
“Jani, hidup itu adalah pilihan. Seseorang memilih sesuatu, pasti karena adanya sebuah alasan. Tapi alasan itu belum tentu akan membuahkan hal yang baik dan memuaskan. Yang paling baik adalah menurutkan kata hati dengan pemikiran yang bersih, murni dari dalam. Jadi menurut bapak, lakukanlah yang terbaik untuk hidup kamu. Bapak tidak ingin hidup kamu sengsara.”
Anjani memeluk ayahnya. Sekuat tenaga dia menahan titik air matanya.
“Jangan sampai Bapak sedih, jangan sampai Bapak melihat penderitaanku,” kata batin Anjani.
“Anjani tahu apa yang akan Anjani lakukan. Bapak jangan khawatir, dan jangan terbebani oleh apapun. Hal terbaik yang harus Bapak lakukan adalah terus merasa tenang dan bahagia, karena Anjani akan selalu ada untuk Bapak. Ketenangan dan kebahagiaan itu penting untuk menunjang kesehatan Bapak.”
Marjono tersenyum haru, lalu memeluk Anjani erat-erat.
*
Sore itu, setelah mandi, Nilam duduk di teras rumah sendirian. Ada perasaan aneh yang mengusiknya. Perasaan yang baru saja disadarinya. Nilam bingung, ini perasaan apa? Nilam memijit keningnya yang terasa berdenyut.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan terdengar. Nilam terkejut. Jatmiko menelponnya?
“Nilam, itu kamu?”
“Maunya kamu menelpon siapa? Salah sambung ya?”
“Tuh, belum-belum sudah mau marah-marah nih.”
“Kamu tidak mengenali suaraku, sehingga kamu bertanya apakah ini aku?”
“Yaah, kan hanya pertanyaan yang tak penting. Lagipula aku takut kalau yang menerima ibu kamu.”
“Enak aja, masa ibu mau menerima panggilan dari ponsel yang bukan miliknya? Sudah, jangan banyak basa-basi, ada apa menelpon aku? Oh ya, kamu kan sudah bertemu Anjani, pastinya?”
“Sudah. Aku menelpon kamu untuk mengucapkan terima kasih, karena kamu telah mempertemukan aku dengan sahabat masa kecilku.”
“Itu kan hanya kebetulan. Tidak perlu mengucapkan terima kasih.”
“Masa berterima kasih tidak boleh?”
“Takutnya kamu akan mengulang-ulang terus kata-kata itu, seperti ketika kamu mengatakan ‘maaf’, aku sampai kenyang menerima ucapan maaf kamu,” sungut Nilam.
Dari seberang, terdengar Jatmiko tertawa keras.
“Hei, suara kamu jelek, tawa kamu juga jelek, kupingku sakit mendengarnya, tahu!”
“Ya ampun, bagaimana kalau sekali saja kamu bersikap manis sama aku, sahabat barumu?”
Nilam tersenyum mendengar istilah sahabat baru.
“Kamu punya sahabat lama, yaitu sahabat masa kecil kamu, dan juga punya sahabat baru, yaitu aku?”
“Tentu saja. Ini sungguh menyenangkan.”
“Baiklah, senang sekali bisa menjadi sahabat kamu. Meskipun kamu terkadang agak nyebelin.”
“Tuh kan, aku sudah senang, belakangnya ditambah kata nyebelin,” sungut Jatmiko.
“Ya sudah, kamu sudah mengucapkan terima kasih, dan baiklah aku jawab, sama-sama Jatmiko. Lalu apa?”
“Nilam, aku sore ini mau jalan-jalan bersama Anjani. Kamu mau ikut?”
“Apa maksudmu? Pacaran ngajak aku? Ngeriiii.”
“Hei, apa maksudmu pacaran? Sampai ngeri juga?” kesal Jatmiko.
“Bukankah kamu mau kangen-kangenan sama Anjani yang sudah lama kamu cintai itu. Ya kan?”
“Iya, kangen-kangenan, karena bertahun-tahun tidak ketemu. Tapi pacaran? Ya ampun, kami hanya sahabat masa kecil.”
“Kamu tidak mencintai Anjani? Dia sangat cantik dan anggun, kamu pantas berdampingan sama dia.”
“Tidak, kami saling menyayangi sebagai sahabat. Entah di mana rasa cinta itu, aku tidak menemukannya.”
“Apa maksudmu?”
“Aku mencintai gadis lain,” katanya pelan, tapi Nilam membalasnya dengan berteriak.
“Apa? Kamu sudah punya pacar?”
“Aku baru jatuh cinta. Belum bisa dinamakan pacar.”
“Ya ampun, aku kira kalian saling jatuh cinta.”
“Jangan macam-macam, Nilam, kamu mau ikut tidak? Nanti aku samperin setelah menjemput Anjani.”
“Maaf, Jatmiko, aku sangat capek, dan ingin beristirahat di rumah saja.”
“Sayang sekali,” keluh Jatmiko kecewa.
“Jangan sampai aku mengganggu kalian yang baru saja bertemu. Aku akan ikut senang melihat kalian bahagia.”
Pembicaraan itu berhenti, yang tanpa disadari oleh Nilam, Jatmiko menutup ponselnya dengan rasa kecewa.
Tapi baru saja Nilam meletakkan ponselnya di meja, Nugi datang mengganggunya.
“Mbak Nilam pacaran ya?”
Nilam memelototi adiknya.
“Apa kamu bilang?”
“Kan tadi mbak Nilam bilang cinta … cinta … begitu.”
“Kamu anak kecil, suka ngawur. Awas ya, aku bilang sama ibu supaya kamu dijewer.”
“Ada apa ini?” tiba-tiba Suri sudah ada diantara mereka.
“Mbak Nilam telpon sama pacarnya, Bu.”
Suri menjewer pelan kuning Nugi.
“Sudah, belajar sana. Kalau kemalaman nanti kamu bilang ngantuk, trus nggak mau belajar. Lagian kamu belum mandi kan?” tegur Suri.
“Oh, belum mandi ya, pantesan bau,” kata Nilam sambil menutup hidungnya untuk mengejek adiknya.
Nugi mencium ketiaknya.
“Iya bau, tapi bau wangi kok,” katanya sambil berlari masuk ke dalam.
Suri duduk di depan Nilam.
“Siapa yang menelpon? Kamu pakai berteriak-teriak segala.”
“Itu, Jatmiko.”
“Haa, dia lagi. Sudah ibu bilang, dia itu suka sama kamu.”
“Yaaa, Ibu kok gitu. Saat ini dia sudah ketemu sahabat masa kecilnya, dan sore ini kencan manis,” jawab Nilam yang sedikit kesal karena sang ibu terus menerus mengira Jatmiko suka pada dirinya.
“Masa?”
“Dia sudah punya pacar juga, Bu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Dia sendiri yang bilang.”
“Sayang sekali. Sebenarnya ibu berharap kamu bisa jadian sama dia.”
“Ibu baru bertemu beberapa kali, tapi sudah banyak berharap atas dia. Belum tentu dia itu baik, lhoh Bu.”
“Menurut ibu, dia itu baik.”
“Baik dari mana?”
“Dari sikapnya yang santun. Dan ketika merasa bersalah, dia begitu bersemangat untuk meminta maaf, sampai dibela-belain ngikutin taksi yang kamu tumpangi supaya bisa menemui ibu untuk meminta maaf.”
“Dia itu kan ceroboh Bu.”
“Ceroboh bagaimana?”
“Berjalan seenaknya sehingga menabrak orang, lalu ngawur mengira bahwa Nilam ini sahabat lamanya. Pokoknya menyebalkan.”
Suri tertawa sambil mengacak rambut Nilam.
“Benci itu bisa jadi cinta, apalagi hanya sebal,” godanya kemudian masuk ke dalam rumah, karena ia mendengar Nugi berteriak memanggil dari kamarnya.
“Adikmu itu, ibu lupa menyiapkan baju gantinya,” katanya sambil menjauh.
Nilam tersenyum mengingat keusilan adiknya, tapi wajahnya jadi muram mendengar ibunya selalu berharap agar dia bisa berjodoh sama Jatmiko.
“Hiih, dia itu memang menyebalkan. Masa lama-lama aku bisa jatuh cinta? Ibu terkadang juga sama menyebalkannya,” gumamnya sambil tersenyum. Sekilas wajah Jatmiko melintas, yang kemudian ditepiskannya.
“Sepertinya aku memang jatuh cinta, tapi bukan pada dia,” gumamnya sambil masuk ke dalam rumah.
*
Anjani pamit untuk keluar rumah di sore itu, dan membuat Estiana heran karena Anjani tidak membawa motor.
“Mengapa jalan kaki? Sebenarnya mau ke mana dia?”
“Mungkin perginya tidak jauh, jadi tidak perlu memakai motor,” kata Marjono.
“Tumben-tumbenan anak itu pergi jalan. Bagaimana kalau sewaktu-waktu nak Usman datang dan mengajaknya jalan-jalan?”
Wajah Marjono langsung muram.
“Mengapa selalu saja kamu memikirkan pak Usman? Masa iya setiap hari dia akan mengajaknya jalan?”
“Namanya cinta itu ya penginnya ketemu setiap hari.”
“Tiba-tiba aku merasa kasihan pada Anjani.”
“Mengapa Bapak mengatakan itu? Anjani senang melakukannya. Bukankah dia sudah bilang kalau nak Usman itu disukainya? Bapak jangan mengacaukan pemikiran Anjani. Dia sudah merasa mantap menjadi istri nak Usman, kalau Bapak berpikiran macam-macam, nanti bisa mengendurkan niat baik Anjani untuk melakukan balas budi kepada nak Usman,” tanpa sadar Estiana mengatakan itu, dan membuat Marjono meyakini pemikiraannya, bahwa Anjani bersedia menjadi calon istri Usman, hanya demi pengobatannya.
“O, jadi Anjani bersedia menjadi istri pak Usman itu karena balas budi? Bukan karena memang suka kan?”
“Salah, aku salah ngomong. Maksudnya, dia itu memang suka, kecuali itu dia juga merasa berhutang budi. Anjani sadar kok kalau nak Usman itu laki-laki yang baik.”
Marjono tidak menjawab. Ia masuk ke dalam kemarnya dan menguncinya dari dalam. Tapi Marjono bukan ingin tidur. Ia membuka laci almari dan mencari sesuatu.
*
Besok lagi ya.
at February 07, 2024
Share
by Tien Kumalasari
diunggah Indarsih Weanind
Ada Cinta Dibalik Rasa | 12, Cerbung Tien Kumalasari
tags: cerbung, cerita bersambung, Tien Kumalasari, Kumalasari, Tien, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, kisah, cerita,