Berita Utama Nusantara PATRI transmigrasi

TERSENGAT PAK TANI

Saat refleksi 16 tahun PATRI (16/02/2020), saya tersengat pernyataan Pak Tani. Jangan merasa berhasil jika anda belum bisa mereplikasi keberhasilanmu. Deg.

Konteks pernyataan Pak Tani sebenarnya berkaitan dengan tema diskusi, Mengakselerasi Entrepreneurship. Tetapi pikiran saya langsung menyambung kepemimpinan. Bagaimana Kepemimpinan DPP PATRI kedepan. Saya harus mereplikasikan diri.

Saya ingat, saat awal deklarasi PATRI (2004), saya termasuk pengurus muda (44). Ketum saat itu (Prof.Muhajir Utamo, 54), lebih tua. Tetapi saat ultah ke 16, saya merasa termasuk Pengurus harian berkepala enam. Tua. Maka sengatan saudaraku Wayan Supadno sangat mengena.

Tetapi beda kondisi antara PATRI di daerah (DPD/DPC) dengan di pusat (DPP). Di daerah adalah lokus dan sumbernya kader. Kimtrans adanya di daerah. Sehingga Insya Allah tidak kesulitan mendata dan menemukan calon kader penerus kepemimpinan PATRI kedepan.

Di Pusat (Jabodetabek), sebenarnya lebih banyak kader PATRI yang lebih mampu. Tetapi masalahnya, PATRI organisasi nirlaba. Bukan organisasi yang mendapat upah. Upahnya “hanya” pahala. Kalah satak bathi sanak. Maka, kalau tidak ada kesadaran dan kemauan mewakafkan diri, tak sanggup bertahan.

Selain itu, amat sulit mencari Kader anak transmigran di ibukota. Kita tidak bisa membedakan antara anak gedongan dan anak transmigran. Karena sama tampannya. Terlebih yang sudah jadi pejabat tinggi, pengusaha sukses, anggota DPR, dan lainnya. Ganteng, cantik, gagah, pidekso.

Tetapi setelah ultah 16 kemarin saya sangat optimis. Ada Pak Tani Wayan Supadno (52), Dr. Sri Wahyuni Biogas (43), Sekjen DPP Sutrisno (54), dan lainnya. Mereka semoga siap melanjutkan kepemimpinan DPP PATRI masa depan.

Saat ini saya Ketum yang memasuki kepala enam. Setelah 16 tahun bersama PATRI, tiba saatnya saya menyiapkan diri mengikuti matahari senja yang segera terbenam.

KoDe, 17.02.2020
Pak Lurah DPP PATRI

Diunggah LikKasjo
editor LikKasjo

%d blogger menyukai ini: