Budidaya Jagung OT-TOT Ala Warsito Gorontalo

Kreativitas dan inovasi para petani jagung di Indonesia perlu diacungi jempol, mereka mencoba budidaya baik secara konvensional (melalui olah tanah) maupun TOT (Tanpa Olah Tanah), seperti yang dilakukan oleh Pak Warsito Soma Wiyono petani jagung asal transmigran Gorontalo.

Ia menggabungkan kedua cara tersebut dengan sekali olah tanah untuk tiga kali musim tanam, artinya 2 kali musim tanam menggunakan sistem TOT.

Warsito, petani Jagung dari Gorontalo

Apa yang dimaksud dengan bertani Konvesional (OT) dan TOT?

Sistem konvesional adalah proses pengolahan tanah (OT) didahului dengan membajak atau pembajakan, baik menggunakan hewan ternak sebagai tenaga, maupun menggunakan traktor atau mesin.

Sedangkan TOT adalah sistem penyiapan lahan pertanian Tanpa Olah Tanah (TOT). Pada lahan pertanian sebagai media tanam, cukup dilakukan dengan penyeprotan menggunakan herbisida, agar gulma mati.  Selanjutnya dilakukan penerbasan atau digilas agar gulma roboh.

Menurut Warsito, pola tanam pertama dengan olah tanah (OT/konvernsional), biaya total sekitar Rp 8.000.000/hektar, dengan asumsi hasil produksi jagung lebih kurang 6 s/d 8 ton, dengan harga jagung Rp 3.000/kg pipil kering, maka keuntungan sekitar Rp 10.000.000 s/d 15.000.000 per musim tanam.

Selanjutnya untuk pola lanjutan ke-2 dan ke-3 dengan TOT biaya penanaman lebih rendah dan keuntungan lebih tinggi. Jarak tanam yang lazim dan merupakan anjuran budi daya jagung selama ini adalah 80 x 20 cm.

“Saya mencoba sudah beberapa musim dengan pola gulud dan lebar 1 meter, dan setiap gulud itu 2 jalur dengan jarak 20 x 20 cm, kami menyebutnya jajar legowo, walaupun hasil buahnya relatif kecil namun karena populasi tanaman perhektarnya jauh lebih banyak, maka hasil akhir per-Ha-nya lebih banyak dan selamat mencoba”, pungkas Warsito.

Prof Muhajir Utomo, UNILA

Hal tersebut, dipertegas oleh Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M. Sc. dengan menambahkan ulasan sebagai berikut “Ya, yang kedua dengan ketiga itu TOT Pak Warsito. Dari penelitian saya jangka panjang dari 1987 sampai sekarang, dengan pola TOT hasilnya lebih tinggi daripada pola di olah (OT). Tapi brangkasan jagungnya harus dikembalikan untuk mulsa”. Ini penting untuk mengurangi erosi, menambah kelembaban dan bahan organik tanah serta hara, ungkap Prof Muhajir.

“Sebaiknya jagung dirotasi dengan kedele atau kacang hijau. Dari penelitian jangka panjang selama 30 tahun, pengolahan tanahnya kembali sebanyak 2 kali (kalau sudah mulai padat). TOT yang diolah kembali bisa memasok hara N, P, K dan hara lainnya.”, Prof Muhajir menambahkan.

“Jadi penggunaan pupuknya lebih irit. Petani jagung di Lampung sudah banyak yang menerapkan TOT”, pungkas Prof Muhajir.

Dari uraian diatas, kami menyampaikan kembali bahwa model yang diterapkan oleh Pak Warsito, petani jagung di Gorontalo itu adalah dalam masa 3 kali tanam panen jagung, mereka menerapkan 1 kali OT, dan 2 kali TOT. Hal tersebut mungkin disesuaikan dengan kondisi tanah ditempatnya.

Sementara itu Prof Muhajir sebagai “begawan” teknologi pertanian, menganjurkan agar seluruh tanam-panen jagung menerapkan pola TOT, dengan syarat brangkasan jagungnya harus kembali sebagai mulsa. Di samping itu ada rotasi tanam kedelai atau kacang hijau, pengolahan tanah dilakukan kalau tanah sudah padat.

Terima kasih sedulur semoga bermanfaat.

By Likkasjo
Referensi Group WA RUMAH PATRI

Artikel TOT lengkap dapat dibaca :

Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc.: “Begawan” Teknologi Pengolahan Pertanian Tanpa Olah Tanah (TOT) di Indonesia.

Baca juga: issuu.com/aprohansaputra/docs/muhajir_utomo_ok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s