Sahabat Kissparry penggemar rajutan, kali ini saya ingin berkisah dari pengalaman membuat pesanan tas rajut semula ingin saya bikin dengan alas yang berbeda, ternyata harus mengulang, inilah penjelasannya.

Bermula dari pesanan seorang pelanggan yang ingin pesan tas rajutan dengan motif yang sama warna juga sama, kadang memang menjumpai seorang pelanggan yang ingin memiliki persis atau bahkan sama.

Seorang ibu ini melihat salah satu tas yang kebetulan belum diambil oleh pemesannya (kebetulan tas ini akan diambil, dan belum diambil), ia langsung tertarik dengan menyampaikan “saya pesan tas seperti ini”.

Saya sudah menawarkan beberapa motif, dan ia tetap menghendaki sama, akhirnya saya pun mengiyakan, tetapi menunggu karena sedang mengerjakan pesenan yang lain.

Seusai pesanan sebelumnya dan tinggal proses puring, saya masih menyelesaikan dompet (tas mungil), dan kemudian mengerjakan pesanan ibu tersebut.

Niatannya akan membikin yang sedikit beda, saya memulainya dan membuat alasnya berbentuk oval.

Namun ditengah merajut, pikiran dan perasaan terusik dan mengatakan sekilas pandang terlihat lebih kecil.

Berhentilah sejenak dan mengambil tas yang menjadi contoh, lalu saya sandingkan berkali kali, sama atau beda dan lebih kecil terlihat.

Saat seperti ini kebetulan suami saya nanya, ada apa dengan tas yang sedang dibuat tersebut, “ada apa umi tasnya, kok di padakne”.

Saya pun menyampaikan, “niki lho kok ketoke bedha gedhene (ini sepertinya besar tas berbeda), ini mau saya bikin sedikit beda dengan alas oval, ternyata hasile beda”.

Saya ditanya “lha kalau hasil beda memang kenapa, coba dibandingne maneh,” dan saya bandingkan lagi hasilnya sedikit beda.

Lho jelas beda ya, kalau oval itu kan lansung belok sedang kalau persegi masih lurus jadi pasti beda titiknya lebih jauh atau panjang yang lurus baru belok, katanya sembari jari tangannya membikin contoh bentuk oval.

Alas tas rajut oval dan persegi

Teruskan wae bedane cuman sedikit, suamiku sedikit menghibur, terus bilang, paling sing pesen ya gelem (mau).

Saya pun dengan abinya memerhatikan lagi, ya memang ada bedanya, dan saya ditanya lha kira kira nanti akhirnya sama atau tidak, sepertinya beda sih, jawabku.

Ya sudahlan terserah umi saja, ibu yang pesan semoga nggak memasalahkan, kalau aku sih tidak apa apa, kata suamiku menenangkan lagi.

Ia tahu kalau tinggi tas rajutan sudaj lumayan sekitar 5 cm, akupun menegaskan lagi jika masih kurang sreg dengan keadaan ini, terlanjur dibuat tidak sesuai contoh belum tentu mau dan saya takut ibu yang pesan itu akan sedikit kecewa.

Saya pun ambil korek api akan saya sudahi dan mulai bikin baru, dan lagi-lagi suamiku bilang “mau yang pesan itu dengan tas model yang sedikit beda”.

Merajut saya teruskan, dan ketika abi sudah berangkat kerja, kebetulan ada kegiatan di luar kantor katanya di hotel Patra Semarang (dulu namanya Patra Jasa), biasa aktivitas pagi, ibu di rumah.

Sudah selesai urusan rumah, karena penasaran yang disampaikan abinya “pasti beda” maka pikiran melayang “aku ngabari yang pesan kemudian dibalasnya dengan, ya umi agak beda tidak apa”.

Tapi kalau dibalas, bedanya apa ya, sudah dapat seberapa sih, sederhana saja dibikinkan seperti contoh yang kemarin umi!

Atau, saya tidak menyampaikan kepada yang pesan lalu pembuatan tas tajut ini saya hentikan dan membuat baru, toh ini nanti bisa dibikin motif lain. Saya buat tas sesuai pesanan agar pelanggan puas. Bimbang pun muncul.

Beberapa saat kemudian saya mengambil meteran dan korek api, meteran untuk mengukur perbedaan lingkar alas sedangkan korek api untuk memotong benang, karena perbedaan panjang akan berpengaruh terhadap besar atau volume tas.

Setelah diukur ternyata ada selisih panjang beberapa centimeter, maka saya memutuskan menyudahi dan memulai lagi untuk membuat tas sama seperti pesanan.

Kemudian saya kunci benangnya dan saya nyalakan korek api lalu saya potong benang dengan api (korek api), jadi sebaiknya tidak sekali-kali memotong benang rajut dengan alat lain kecuali terpaksa.

Saat pulang dari kegiatan kantor, suamiku bertanya “Jadinya bikin dari awal maneh” dan saya pun menjawab “Inggih luwih mantap, jadi saya bikin sesuai pesanan, sing pesen ya marem”.

Memang itu yang lebih baik, ya sudah, lha iki mengg nggo apa, tanyanya.

Bikin motif lain untuk sendiri, tapi pikiranku berkata, siapa tau nanti ada yang mau, padahal sudah ada orderan baru tapi motif model beda.

Sepulang dari ngaji bersama anak anak TPQ, o iya itu jika teman teman lihat blog ini ada sharing cara mengurus izin TPQ baru menjadi tulisan yang banyak dibaca, maka foto sampulnya saya dan santri TPQ yang akan ujian bersama.

Kebetulan belum sampai dirumah sudah ditunggu di teras, mengajak rekaman, ayo rekaman tas yang alas oval dan kotak.

Tas rajut mungil pink yang menarik hati

Nggak usahlah keliru kok di rekam dan cerita pada orang.

Malahan bisa berbagi pengalaman, katanya dan saya pun bersedia.

Saat rekaman itu saya diminta menunjukkan bedanya, maka saya hitung polanya, ternyata selisih 3 lajur sedangkan setiap lajur ada 12 titik tusuk, jadi bedanya ada 12 x 3 = 36 titik.

Wow terbukti akan memengaruhi volume tas.

Sekian semoga manfaat

oleh Indarsih Weanind (Umi IIN)
editor Esewedwea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.