Harum Wangi Mengikuti Langkah Kami Ketika Salah Satu Teman Memetik Bunga di Petilasan Sunan Ampel

Misteri tidak semua mengalaminya meskipun dalam satu rombongan, dan ini adalah kisah nyata, bukan bau bunga yang dipetik tetapi harum semerbak mewanginya itu dari wewangian yang lain.

Salah satu tokoh masyarakat di desa itu telah mengingatkan agar ketika disebuah petilasan Sunan Ampel di desa tersebut tidak berbuat yang aneh-aneh, terlebih jangan mencoba memetik bunga jika disitu ada bunga yang sedang mekar, agar dibiarkan saja dan jangan nanti ada kejanggalan atau keanehan yang membuat takut berada disana.

Petilasan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar “telas” atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting), dikutip dari Wikipedia.

Petilasan Sunan Ampel, berarti tempat tersebut pernah disinggahi oleh Sunan Ampel, beliau merupakan salah satu dari Walisongo.

Namanya anak zaman now (sekarang) bagian dari kaum milenial, sepertinya ingin coba-coba atau lupa akan pesan dari sesepuh kampung tempat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata yang pernah dipesankan kepada kami.

Kami adalah rombongan pendatang yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa di kecamatan belahan barat Jawa Tengah ini, tepatnya Kecamatan Batang. (maaf untuk desa dan alamatnya sementara tidak kami sebutkan, guna menjaga naturalisasi dan privasi desa/dusun tersebut).

Siang hari kami berkunjung ke petilasan tersebut dengan menggunakan sepeda motor bersama teman-teman, mengingat jaraknya cukup jauh, melewati perkebunan teh dan hutan pinus. Tujuannya ke petilasan untuk bersih-bersih dan lain sebagainya, kunjungan itu hingga menjelang maghrib, jika maghrib sudah sampai di posko desa, atau setidaknya desa terdekat.

Salah satu jalan menuju Petilasan Sunan Ampel, ditengah hutan pinus

Jalanan sepi, hanya satu dua yang melewati jalan ini, namun pada hari dan waktu tertentu akan ramai, dan kebanyakan menggunakan sepeda motor meskipun masih ada yang jalan kaki.

Kegiatan kami di petilasan Sunan Ampel hari itu tidak terlalu lama, antara lain bersih-bersih.

Anehnya tidak lama kemudian ketika kembali dari petilasan selepas melewati hutan pinus masuk ke kawasan kebun teh, salah satu teman saya bilang jika dari masuk kebun teh tadi kok baunya wangi ya, dan kami coba terus berjalan pelan tetapi bau wangi yang mengikuti langkah kami, ketika berhenti sepertinya bau wangi agak pudar, ketika berjalan lagi baunya mengikuti lagi.

Semula saya tidak mencium bau itu tetapi kemudian ikut merasakan harumnya bunga itu. Rombongan berhenti ditengah kebun teh “sek mandeg kabeh – sebentar berhenti semua”, teman-teman saya ajak berhenti.

Saya bertanya kepada semua peserta dalam rombongan ini, “sapa sing metik kembang neng petilasan mau – siapa yang memetik bunga di area petilasan tadi”.

Mulanya pada diam, kemudian ketua rombongan ternyata yang mengambil atau memetik bunga, “aku sing metik kembang – saya yang memetik mengambil bunga”, ia mengaku dan menunjukkan kepada kami bunga yang dipetiknya itu.

Sekarang kita harus mengembalikan bunga ini ke petilasan, saya usul pada mereka semua. Ayo sebagian mengembalikan dan yang lain silakan menunggu disini, semoga tidak lama.

Jalan masuk – keluar petilasan Sunan Ampel, seusai mengembalikan bunga yang dipetik, suasana sudah mulai gelap.

Untung saya langsung ingat pesan dari sesepuh desa tersebut, kemudian saat sampai di pohon bunga yang dipetik itu saya minta bunga dari teman saya itu untuk saya taruh dibawah pohon. Saat meletakkan bunga saya sendiri yang bilang lirih, “ngapunten mbah rencang kulo mendet kembang, niki kulo wangsulke – maaf eyang teman saya memetik bunga ini saya kembalikan”.

Kami pun memberanikan diri untuk mengembalikan bunga tersebut, karena takut diantara kami mungkin akan ada yang diganggu misalkan kesurupan atau apa.

Setelah itu kemudian kembali, rombongan teman saya yang berada ditengah kebun teh tadi terus berjalan maju mendekati perkampungan dan menunggu ditempat itu.

Alhamdulillah, ketika melewati kebun teh itu kembali karena jalan satu-satunya hanya ini jalan untuk pemotor, hari sudah mulai gelap karena tidak ada penerangan lampu warga, tetapi bau wangi sudah tidak tercium lagi.

Dengan dikembalikannya bunga tersebut kami lebih merasa tenang dan tidak terbebani. Ketika suatu waktu ke petilasan ini kami lebih hati-hati, dan menyadari jika para wali memang termasuk orang yang luar biasa.

Ditempat ini juga sering dikunjungi oleh masyarakat setempat dan bahkan pendatang, diantaranya untuk berdoa.

Pesan Moral

Di daerah terpencil mungkin saja masih ada tempat-tempat yang oleh masyarakat setempat dianggap angker dan keramat. Jika kita berada disuatu tempat yang mungkin kita tidak mengenal sebaiknya memang harus hati-hati dan ingat pada Sang Pencipta, Allah SWT.

Baca Juga : Pendakian Gunung Lawu yang Penuh Misteri, Kisah Nyata

Misalnya di gunung-gunung, contoh sewaktu saya akan mendaki gunung dipesan oleh ayah saya agar hati-hati dan mengikuti petunjuk atau arahan dari tokoh masyarakat setempat, seperti ketika beliau akan mendaki Gunung Merbabu dapat pesan dari masyarakat setempat jika ketemu yang aneh-aneh agar diam saja, artinya diam dalam perkataan, silakan berdoa sesuai agama masing-masing, jika Islam ya beristighfar atau yang lain.

rekan-rekan KKN

Tulisan ini merupakan kisah nyata untuk renungan dan pembelajaran.

Sekian semoga bermanfaat

Salam

oleh Alifiansyah
editor EswedeWea (dalam editing)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.