latihan

Bosku yang Dingin | Cerita Pendek

Tinul setiap pagi selalu menunggu Bang Uu peloper koran keliling yang biasa ngider di komplek rumahnya. Sudah setupuk koran dibawah meja santai teras yang setiap hari dibeli hanya sekadar mencari rubrik lowongan pekerjaan. Sudah tiga bulan semenjak wisuda dari jurusan Akutansi belum menemukan lowongan pekerjaan yang cocok di hatinya.

“Koran-koran”, teriak seorang penjual koran, bang Uu, menjajakan dagangannya.

Bang Uu, beli, sambil mengunyah tela-tela kesukaannya, Tinul berlari kearah pintu gerbang rumahnya.

“Koran atau majalah non?,”

“koran Bang!,” Makasih non, setelah menerima uang, dan berlalu melanjutkan keliling menjajakan koran.

O, ya. Namaku Tina Widuri Joyo, yang sering dipanggil Tinul sama kawan-kawan SMA, karena pada waktu itu aku sedikit gemuk, umurku 22 tahun, dengan tinggi badan 178 cm dan beratku 56 Kg.

“kok belum ada lowongan yang asyik ini”

Masih tertuju pada koran yang dipengangnya, matanya melotot saat menemukan rubrik lowongan pekerjaan. “ Dibutuhkan satu orang tenaga keuangan, pendidikan min SMEA jurusan Akutansi, umur max 25 tahun, berpenampilan menarik, gaji pokok Rp. x.xxx.xxx,-, pengalaman diutamakan, sanggup ditempatkan di luar kota, kirim CV ke PT. R.S Alamat Jln. Anumerta 1587”.

“kayaknya cocok nih, walaupun tempat kerjanya diluar kota nggak apa-apa deh”, Tinul menghibur hatinya.

“Ada apa, Tin ?”

Tinul dengan kaget menolah ke sumber suara. “eh… Papa”, dengen ekspresi terkejut Tinul menjawab sekenanya.

Ini Pah, seperti biasa cari lowongan pekerjaan yang cocok.

Lihat ni Pah!

Apa, Kamu mau kerja keluar kota?

Tidak-tidak, Papa tidak setuju !. Papa sudah bilang, kamu kerja dikantor Papa saja untuk apa mencari kerja tempat orang lain.

“bukan tidak mau bekerja dikantor Papah, Tina mau cari pengalaman hidup dulu, lagian ngak enak sama pegawai Papah nanti merasa canggung jika berinteraksi dengan aku”. Tina cari pengalaman dahulu. Sumpah, sambil mengacungkan tiga jari, jika sudah merasa mampu baru kerja dikantor Papa.

Untuk melembutkan suasana hati Papahnya,  Tina bangkit memeluk papanya.

“Pah, Tina. Sarapan sudah siap!”

Secara kompak keduanya menoleh kearah suara, tanpa komado Tina berlari kedapur melepas pelukan papanya langsung menghempaskan pantatnya dikursi meja makan.

“Tuh putrimu mau kerja keluar kota, Mah !”.

Sambil menuangkan nasi goreng telur orak-arik cincang tuna kesukaan Tina, ibunya tersenyum, bukanya dikantor Papamu, You bisa kerja. Kenapa harus repot-repot bekerja ketempat orang lain.

“Tapi Mom, Dad. Tina kepingin cari pengalaman dulu, boleh ya..ya..ya..?”

Hampir lima belas menit ketiga anggota keluarga ini menikmati sarapan dengan pikiran masing-masing. Keheningan pecah oleh suara Bibi Inah.

Untuk urusan dimeja makan keluarga ini sangat ketat, setelah berdoa sebelum makan, maka tidak diperkenankan berbicara hingga selesai waktu makan.

“Maaf Tuan, ada Tuan Kasjo serta keluarganya diruang tamu “, Bi Inah membukuk sambil menunjuk kedepan.

*****

“Maaf Bro Joyo pagi-pagi kami sekeluarga tidak sopan bertamu.” Oh.. santai saja Bro Kasjo, merupakan kehormatan kami kedatangan tamu pembesar bisnis di kota Braga ini. Silahkan duduk.

Pak Joyo dan Pak Kasjo telah bersahabat semenja duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, hingga kuliah. Diantara keduanya sudah seperti keluarga dekat. Setelah keduanya lulus kuliah mereka berpisah karena Pak Kasjo melanjutkan studi keluar negeri.

“Ini, nak Rio?” wah sudah dewasa, dan ganteng.

“Betul Om”, Orang yang disanjung mengeluarkan suara.

Sebenarnya aku sudah dua tahun ini Kembali dan pindah ke Kota Braga ini,  sengaja tidak mengabari Bro Joyo, karena kesibukan memindahkan Kantor Utama Group K@sjo Company disini.

 Bro Kasjo bisa saja. Ini Nak Tina, sudah sepuluh tahun ini kita tidak berjumpa, sekarang sudah menjadi gadis dewasa.

Sambil tersenyum Mamah Tina berpaling “Tin ajak nak Rio jalan-jalan di taman, anak muda berbeda topik pembicaraan dengan orang dewasa.”

Sambil cemberut Tina melirik Rio. Tak diduga Rio sudah berdiri dari kursinya dan menatapnya dingin, Ayo ! Tanpa menunggu reaksi Tina langsung melangkah keluar rumah menuju taman disamping vila keluarga Joyo.

Tina mau tidak mau beranjak dari tempat duduknya, maaf Om dan Tante  saya  ke depan.

Bro Joyo. Apa kamu sudah lupa perjanjian keluarga kita sepuluh tahun lalu. Ha ha ha Bro Kasjo. Bagaimana saya lupa, tapi sekarang jamannya sudah berbeda, biar anak-anak menentukan jalannya masing-masing sesuai dengan keinginan mereka. Kita lihat saja bagaimana mereka berdua berinteraksi dahulu jika ada kecocokan kita restui saja.

Ya…ya…ya, tapi perjanjian itu harus kita laksanakan.

Jeng Taty ayo kita intip anak kita biar dua sahabat itu bertengkar. Ayo Jeng Amy.

Diarea taman ada dua sejoli yang hanya duduk tanpa ada sepatah katapun keluar diantara mereka, sesekali tatapan mata keduanya beradu dan sama-sama memalingkan ke arah yang berbeda.

Tina memberanikan diri bertanya, karena merasa menjadi tuan rumah. Maaf Perkenalkan nama ku Tina Widuri Joyo, sambil mengulurkan tangan kearah Rio.

Sudah Tahu, sambil acuh Rio tidak segera menyambut uluran tangan Tina.

Tiga puluh detik berlalu Tina menurunkan tangannya dan menatap ke air mancur, sambil bergumam “tidak sopan, baik-baik memperkenalkan diri disambut acuh, tau begini mending tidur dikamar sambil mempersiapkan lamaran ke PT. R. S”.

Rio melirik, walaupun gumamannya tidak begitu keras, tetapi kalimat terakhir masih terngiang di telinganya. “PT. R. S”, yang merupakan perusahaan barunya diluar kota yang sedang merekrut beberapa karyawan baru, memang saat ini masih tahap mulai produksi awal.

PT. R.S dibidang produksi garmen, dan merupakan pabrik ke enam dibawah Group K@sjo Company.

Sudah hampir satu jam mereka berdua belum juga ada interaksi apapun. Ini Non Jus Alpokat dan Jus Mangga silahkan di minum.

“Terima kasih Bu”, sambil tersenyu manis Tina mengedipkan mata ke pada Bibi.

Silahkan diminum Tuan, Tina mempersilahkan kepada laki-laki tampan dan dingin didepannya.

Heem, ok.

Hanya kalimat itu, dasar gak tau berterima kasih, sambil mengambil gelas jus alpokat dan mengambil cemilan hidangan dari Bibi, Tina menyesap minumannya sampai hampir habis.

Boleh minta WhatApp nya tuan, Tina menyodorkan barkode kehadapan Rio, dengan acuh Rio memindai Barkode WhatApp didepannya.  

Pinjam handphonemu sebentar, sambil mengulurkan tangan tanpa canggung Tina menyerahkan, setelah beberapa saat entah apa yang dilakukan kemudian menyerahkan kembali.

“ini”

“awas jika ada yang berkurang dari handphoneku”

“sombong nggak mau memperkenalkan diri, ngak kenal juga ngak merepotkan”, klik kirim

Ting,

Rio melirik layar handphonenya dan mendengus.

“emang enak dicuekin, Rio Nanda Kasjo”, puas

Ting,

Bersambung …..

Baca juga | Taburan Mawar Cinta, Cerpen

oleh Lik Kasjo

Kategori:latihan, Novel

Tagged as: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.