Arti dan Sejarah Halal Bihalal di Indonesia

Kita sering mendengar jika halal bi halal hanya ada di Indonesia, ya memang demikian karena ini juga merupakan bagian tradisi masyarakat Indonesia, orang Jawa khususnya, setelah datangnya Lebaran.

Wah banyak sekali tradisi masyarakat Jawa ya? Memang demikian adanya. Pernah Kissparry sampaikan yang namanya tradisi itu bisa jadi tidak ada sumbernya atau tuntunannya di zaman Nabi, kalaupun ada hanya di hubung-hubungkan atau istilahnya gathuk mathuk.

Agama Islam tidak lahir di tanah Jawa, sementara di tanah Jawa sudah ada ajaran dan tradisi pendahulunya, kalau tidak boleh dikatakan nenek moyang.

Ini menjadikan banyak tradisi yang di adopsi untuk kegiatan ritual agama, yang terkadang ada tradisi yang pro dan kotra.

Kissparry tidak menyoal akan tradisi mana yang pro dan mana yang kotra terhadap suatu agama, kita akan mengambil yang terbaik atau dari sisi kebaikan.

Baru-baru ini beredar di Medsos, ketika ada ulama besar mengatakan Mohon Maaf Lahir dan Batin saat Idul Fitri itu tidak ada sumbernya dan tuntunannya, salah besar bila ada yang mengatakan seperti itu, katanya.

Dalam hal ini Kissparry ikut komentar (tertutup saja), memang Halal Bi Halal itu hanya ada di Indonesia, jangan di bawa ke Negeri Arab, orang Arab pasti bingung, ya jelas kebingungan kira-kira seperti itu.

Hanya istilah saja menggunakan bahasa Arab. Lha karena menggunakan bahasa Arab itulah maka seolah terhubung dengan Islam, nyatanya yang berhalal bihalal dari berbagai kalangan masyarakat.

Sejarah Halal Bihalal

Konon, tradisi halal bi halal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 Apri 1725), yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fithri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bi halal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bi halal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.

Nama Halal Bihalal menjadi melembaga setelah istilah tersebut dipilihnya dan dipakai di zaman Presiden Soekarno, berikut kisahnya.

Tahun 1948 menjadi salah satu tahun terberat bagi bangsa Indonesia. Tiga tahun setelah menyatakan diri lepas dari penjajahan, situasi politik tak kunjung kondusif. Indonesia dilanda gejala disintegerasi bangsa.

Elite politik saling bertengkar, tidak mau duduk semeja berbicara solusi. Saling serang dan saling melancarkan propaganda. Di sisi lain, aksi pemberontakan belum juga habis. DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun, misalnya.

Di pertengahan bulan Ramadhan, Presiden ketika itu, Ir Soekarno berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu. Ia kemudian memanggil K.H Wahab Chasbullah ke Istana untuk meminta pendapat.

K.H Wahab pun menyarankan Bung Karno untuk menggelar acara silaturahim antar elite politik. Sebab, Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari. K.H Wahab berpendapat, umat Islam disunahkan bersilaturahim pada Hari Raya Idul Fitri.

Bung Karno sepakat dengan substansi usul itu. Namun, ia kurang ‘sreg’ dengan judul ‘silaturahim’.

Bagi Bung Karno, istilah itu terlalu biasa. Harus dicari istilah lain agar pertemuan itu menjadi momentum dan mengena bagi para elite yang hadir.

K.H Wahab kemudian menceritakan sebuah alur pemikiran yang menjadi kunci ke penemuan istilah ‘halalbihalal’.

Pemikiran itu diawali dengan situasi di mana elite politik tidak mau bersatu karena saling merasa diri benar dan orang lain salah.

Dalam Islam, saling menyalahkan adalah dosa. Di sisi lain, dosa adalah haram hukumnya. Nah, supaya elite politik lepas dari dosa (haram), maka satu sama lain harus dihalalkan.

Mereka harus duduk satu meja dan bicara satu sama lain. Saling memaafkan, saling menghalalkan.

‘Thalabu halal bi thariqin halal’. Artinya, mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan (memaafkan).

Alur pemikiran itu kemudian membawa K.H Wahab pada sebuah istilah yang hingga saat ini dikenal luas di Indonesia, halal bihalal.

Usul itu diterima dengan baik oleh Bung Karno. Saat Idul Fitri tiba, ia mengundang seluruh tokoh politik ke Istana untuk mengikuti acara halalbihalal.

Untuk pertama kalinya semenjak perbedaan pendapat di antara mereka muncul, para elite politik yang berbeda-beda itu duduk di satu meja dan momen tersebut dinilai babak baru menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itu, acara tatap muka, berbincang-bincang serta saling bersalam-salaman tersebut diikuti oleh instansi pemerintah hingga masyarakat luas hingga saat ini.

Meskipun sejak Pangeran Sambernyawa sudah menyelenggarakan semacam halal bihalal, akan tetapi penamaan halal bihalal baru sekitar 1948 saat Presiden Soekarno.

Apa itu Halal Bihalal

Dari uraian sejarah munculnya istilah Halal Bihalal menjadi lebih terang apa itu Halal Bihalal.

Dari sisi bahasa halal berasal dari bahasa Arab yang artinya boleh, sedangkan kata bi juga dari bahasa Arab yang artinya dengan. Halal bi Halal artinya boleh dengan boleh atau halal dengan halal.

Kata-kata halal itu bahasa Arab yang sudah sangat fasih diucapkan masyarakat Indonesia, entah muslim atau non-muslim. Termasuk kalimat Minal Aidin wal Faizin pun demikian yang terkadang tidak mengetahui artinya.

Di Indonesia kata HALAL ini menjadi sangat penting dan bermakna, bagaimana tidak, tulisan ini bisa dikatakan wajib ada di setiap bungkus makanan dan minuman yang memang itu boleh dimakan atau diminum. Utamanya makanan atau minuman yang diproduksi secara masal berasal dari pabrik makanan atau minuman.

Bila demikian, apakah HALAL BI HALAL ini juga menjadi sangat penting. Kita akan memandang dari aspek positif.

Makna Halal Bihalal Meluas di Kalangan Masyarakat Sejak Dulu

Sebelum ada istilah halal bihalal waktu itu namanya ujung-ujung atau kunjung mengunjungi. Sekarang kalau ujung-ujung juga dilakukan, namun biasanya membawa makanan khusus, misalnya sayur opor ditemani dengan lontong, jadilah lontong opor.

Susahnya mengatakan Halal Bihalal disebagian masyarakat tempoe doeloe menyebutnya BALAL.

Misalnya Kissparry WN dan kru disuruh ayah ibunya dengan mengatakan seperti ini, “Bocah-bocah kono podho BALAL neng Mbah Sarto” (anak-anak ayo pergi bersama sana BALAL ke kakek Sarto). Inilah contoh orang tempoe doeloe, lailatul qodar saja menyebutnya qodaran.

Apakah ada yang salah dengan sebutan itu? Menilik kata yang digunakan, yang namanya bahasa adalah interaksi antar orang ke orang, selama yang diajak komunikasi mengerti, jadilah istilah itu bisa benar.

Istilah Balal atau Halal Bihalal tentu hanya ada pada saat Lebaran atau Idul Fitri saja, diluar hari-hari itu sudah berbeda istilah meskipun kegiatannya sama mengunjungi sanak saudara.

Kissparry WN pun sering mengajak rombongan untuk ber halal bi halal, misalnya ke tempat paman, “Ayo halal bihalal ke tempat paman di Banyumanik”.

Halal Bihalal yang lebih luas dan melembaga pun akhirnya terus diselenggarakan di kantor, instansi, sampai dengan kelompok masyarakat, seperti RT dan perkumpulan atau paguyuban lainnya. Bahkan di masjid-masjid juga menyelenggarakan acara Halal Bihalal.

Halal Bihalal di Era Perkembangan Teknologi Komunikasi

Dahalu, kartu lebaran dan surat tulisan tangan menjadi sarana untuk berkirim ucapan bahkan salah satu primadona untuk menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri sebagai perwujudan halal bi halal jarak jauh.

Untuk ucapan yang disampaikan keluarga ditempat yang jauh seperti Kissparry WN di Semarang ingin berkirim ucapan ke Kissparry di Sumatera Selatan, atau bahkan di Kissparry Aceh Darussalam sana, sejak pertengahan Ramadhan sudah mengirimkan Kartu Lebaran ataupun Surat tulisan tangan yang berisi ucapan maaf disaat Lebaran tiba.

Kartu Lebaran dikirim pertengahan bulan puasa itu bisa sampai ditempat setelah Lebaran, terkadang surat nyasar dimana sehingga tidak sampai ke alamat tujuan.

Sejak tahun 2002, Kissparry WN mulai mempunyai handphone, kok ingat? ya nomor HP Kissparry itu beli ketika Indonesia berumur 57 tahun (HUT RI Ke-57) nomornya ada 2-57. Pesawatnya di beri teman saya Pak Indrapradja (terima kasih pak Indrapradja, semoga barokah, tetap sehat dan panjang usia). Lama kelamaan yang lain punya pesawat HP dan tentu berserta nomornya (chip).

Kartu Lebaran mulai ditinggalkan (baru sekitar 2008), dan ucapan selamat melalui pesan singkat (SMS), sebelum SMS dengan telepon. Saat ini (2018) ucapan selamat sudah marak dengan kiriman gambar melalui handphone atau smartphone.

Dengan teknologi 4G bahkan sudah bisa bercakap-cakap dengan menampilkan gambar dari yang bercakap secara langsung.

Namun demikian, budaya mudik lebaran untuk berkumpul bersama keluarga tetap tidak akan hilang, bahkan tahun ini pemerintah memperlama libur cuti bersama lebaran. Itulah pentingnya mempererat tali persaudaraan. Dan saat itulah biasanya di kampung-kampung diselenggarakan acara Halal Bihalal keluarga, mumpung kumpul.

Diolah dari berbagai sumber
Kissparry

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s