Gagasan

Obah ya Mamah, Lan Kudu Obah ben Bisa Mamah

Ungkapan dalam bahasa Jawa salah satu dari prinsip Kissparry bagaimana mengarungi bahtera kehidupan itu dalam keadaan yang serba sulit sebagai ‘wong cilik‘.

Kisah hidup seseorang memang berbeda-beda, kalau sama nampaknya kurang harmonis suasana dunia ini, monoton, kehidupan bisa ibaratkan ada malam dan ada siang, ada milyuner dan ada pula pengemis.

Suatu saat saya mendengar ada seorang bercerita kisah hidupnya semasa dahulu, tentang susahnya menjalani hidup, belum sampai ceritanya selesai, seorang lainnya yang menjadi lawan bicara menanggapi memotong pembicaraan, sedangkan ia baru akan bercerita, “lha iya saben uwong kuwi duwe dalan crita dewe-dewe, sing penting saiki ayo di syukuri, nek diceritakke ora ana enteke” (lha iya…. setiap orang itu punya kisah jalan hidup sendiri-sendiri yang penting bersyukur saja apa yang ada, kalau diceritakan tidak bakal ada habisnya).

Mungkin saja orang yang diajak lawan bicara itu pernah mendengarkan kisah yang sama yang pernah disampaikan temannya itu, mungkin lebih dari sekali, meskipun temannya usianya sudah jauh lebih tua, dia berani memotong kisah yang akan diceritakan.

Jamur Tiram siap panen bahan Krispy – budidaya jamur di baglog – Kissparry Sekayu

Pun terkait dengan ungkapan ini “Obah ya Mamah, lan Kudu Obah ben Bisa Mamah”, prinsip ungkapan dalam bahasa Jawa ini kalau di Indonesia-kan menjadi Berusaha (gerak) ya bisa makan, dan harus berusaha (bergerak) biar bisa makan, bisa juga dimaknai hidup itu harus bergerak atau berusaha dengan begitu pasti bisa dapat rezeki, dan harus bergerak agar kebutuhan tercukupi.

Itulah prinsip sederhana Kissparry (Parry) yang ada dibenaknya yang dapat ditularkan dan disampaikan dalam blog ini, karena Ia merasa sebagai ‘wong cilik‘, orang kecil, masyarakat biasa, yang hidup serba pas-pasan.

Dengan prinsip sederhana inilah ketika bergeraknya tidak bisa leluasa, Parry mencari tempat yang bisa untuk bergerak lebih leluasa, jalan yang harus ditempuh dengan ber-transmigrasi (migrasi atau pindah, migran – perantau – merantau). Istilah transmigrasi ini hanya ada di Indonesia saja.


Baca Juga :

Semenjak ditinggal pergi sang suami menghadap Illahi Robbi (Sept. 1984), seorang ibu – mbah Parry harus memutar otak menguras pikiran dan tenaga agar 6 orang anak-anaknya bisa hidup lebih baik, punya tanah yang luas, bertani pun tidak masalah.

Namun, untuk membelikan tanah dan rumah hampir tidak mungkin, bahkan sejengkal tanah dan rumah sudah dijualnya demi kesehatan suaminya, sehingga untuk keseharian saja bisa dibilang pas-pasan, ‘obah ya mamah‘ (berusaha agar bisa makan sehari-hari) ‘lan Kudu Obah ben Bisa Mamah‘ (tetap harus berusaha sekuat tenaga agar tetap bisa makan), salah satu prinsipnya.

Pidie Aceh, salah satu tempat untuk berlabuh untuk mengais harapan masa depan yang lebih baik, ternyata Tuhan berkehendak lain, harus hengkang dari negeri “gemah ripah loh jinawi” itu, daerah yang ditinggali ketika ikut program transmigrasi ini benar-benar cocok diberi ungkapan itu. Ketika tanaman cabai tingginya setinggi orang dewasa berdiri, bahkan ada yang lebih tinggi lagi, dengan buah yang bagitu lebat, benar-benar tanah yang subur.

Sebelum migrasi ke Aceh sempat di Ogan Komering Ulu terlebih dahulu dan kembali ke Jawa dengan menumpang ditempat saudaranya beberapa tahun, kegiatannya berdagang kecil-kecilan hanya untuk sekadar dapat makan sehari-hari tidak menggantungkan orang lain.

— Baca juga : Kisah Eksodan Aceh, Berjuta kenangan perjalanan dari Tanah Rencong NAS

Seringkali berhubungan dengan Dinas Sosial dan Transmigrasi untuk bisa kembali menggarap tanah untuk bertani, berangkat dari mana saja mau sudah pesan kepada pemerintah melalui Dinas Sosial dan Transmigrasi, tidak mungkin terus menumpang ditempat saudaranya seorang ibu dengan enam orang anaknya, sambil tetap berdagang kecil-kecilan “Lan kudu obah ben bisa mamah“.

Pohon jagung diantara rerimbunan pohon besar di musim penghujan 20190109 Kissparry Grobogan (Karangrayung)

Akhirnya petugas dari Dinas Sosial dan Transmigrasi mendatangi kediamannya, menawarkan untuk berangkat ke Kalimantan atau Papua, tetapi tidak disanggupi, dan kalau bisa ke Sumatera pinta kepada petugas, dan setelah agak lama menunggu akhirnya petugas datang lagi untuk menawarkan berangkat ke Sumatera Selatan, yang sekarang ditinggali yaitu Tenggulang Baru SP.5, Sungai Lilin, Kab. Musi Banyuasin.

Ditempat yang baru Kissparry bertani sambil berjualan barang kelontong, kecil-kecilan, meskipun tempat yang digunakan untuk berjualan belum memadahi tetap ‘obah bisa mamah‘.

Kadang masih pergi ke ladang kelapa sawitnya, yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ladang ini sebagian diperoleh dari pemberian pemerintah dan sebagian lagi hasil pembelian, namun pekerjaan ke ladang yang utama sudah diserahkan ke anaknya yang masih bersamanya, anak-anaknya yang lain sudah merantau lagi, ke kota Sekayu dan ke Tebo, Jambi.

Sekian…., setiap orang punya kisah jalan hidup masing-masing tetapi “kudu obah ben bisa mamah“.

by WeanindNews
Editor: LikKasjo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.