Berita Utama Gagasan Nusantara PATRI

Redefinisi Makna Transmigrasi, Renungan untuk Kader dan Para Guru

Negeri kepulauan dengan multi etnik, bahasa, budaya, dan agama ini amat rentan diadu domba, inilah perlunya transmigrasi di Indonesia, bukan semata berkaitan dengan demografi.

Renungan kader kali ini dikirim oleh Sekjen DPP PATRI, Hasprabu dari Bengkulu. Setelah kisah perjalanan Nekat Transmigrasi yang menjadi populer di blog ini, sekarang tentang redefinisi transmigrasi.

Tulisan ini meskipun khusus renungan kader, tetapi yang lainnya dipersilakan menyimak, khususnya para guru.


Saudaraku kader PATRI, dan khususnya Bapak dan ibu guru keluarga Transmigran. Dulu, dulu sekali. Guru kita menjelaskan transmigrasi itu proyek atau program pemindahan penduduk dari Jawa keluar Jawa. Kemudian ditambah, Madura, dan Bali (Jambal).

Kemudian definisi berubah. Transmigrasi merupakan program pemindahan penduduk dari daerah padat ke daerah yang masih kosong (kurang padat) untuk menetap. Ditambah lagi, untuk kesejahteraan masyarakat transmigrasi dan sekitarnya.

Definisi selanjutnya, perpindahan penduduk untuk kepentingan pembangunan, pemerataan, dan menguatkan persatuan Indonesia (NKRI).

Tetapi jika dirujuk pada akarnya, transmigrasi di Indonesia bukan semata berkaitan dengan demografi. Negeri kepulauan dengan multi etnik, bahasa, budaya, dan agama ini amat rentan diadu domba. Terbukti, negeri Belanda yang kecil itu dapat menjajah 350 tahun dengan mengandalkan politik pecah belah, adu domba.


Baca Juga :


Maka, transmigrasi di Indonesia bukan semata persoalan kependudukan, tapi lebih kepada suatu gerakan penyadaran nasional. Gerakan bela negara. Gerakan Penyadaran itu harus meliputi seluruh anak bangsa. Baik mereka yang akan dipindahkan, maupun yang akan didatangi, dan dipertemukan dalam satu kawasan.

Jadi, dengan kata lain kita memerlukan gerakan nasional perekat bangsa. Pemindahan penduduk hanya salah satu dari cara merekatkan persatuan antar warga negara.

Itulah sebabnya, Bung Karno menyebutkan Transmigrasi adalah persoalan Mati-Hidup Bangsa Indonesia. Jika Transmigrasi melenceng dari ruh gerakan penyadaran dan persatuan nasional, maka negeri itu bisa punah. Mati bangsa ini.

Karena itu, selama periode PELITA (1969-1999), Pak Harto secara sistematis melanjutkan gerakan Transmigrasi. Demi cintanya kepada kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Anak didik kita, khususnya anak Transmigran, perlu memahami hakikat ini, dan secara arif turut menyebar luaskan penyadaran dan pemahaman ini. Terutama kepada generasi milenia disekitarnya.

PATRI tak kenal lelah akan terus menggemakan ruh gerakan Perekat Nasional lintas agama, suku, dan budaya ini. Diantaranya dengan sekuat tenaga mendorong agar pemerintah (Presiden) menetapkan Hari Transmigrasi Nasional.

Mari kader dan sahabat guru, kita bersatu. Dimulai dari sekolah kita. Dari murid kita.

Sekian

Bengkulu, 23.02.2019
@hasprabu

Diunggah oleh LikKasjo
Editor: Kissparry
Hasprabu nama pena dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PATRI.

Baca Juga :
Kemiskinan Membuat Ayahku Nekat Transmigrasi, Kisah (Nyata) Perjalanan.

Insert gambar: Tugu Monumen Transmigrasi Lampung Tengah

Sisi Lain: Transmigrasi dan Pendekatan Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.