Ingatan saya bersama anak karena biasa dijemput dari tempat kegiatan rutin, bisa jadi lupa jika waktu itu ternyata bersama Ojol (ojek online).

Ojol orang memendekkan sebuah sebutan ojek online, salah satu jasa transportasi di Indonesia. Saya sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba disingkat seperti itu, tetapi tak masalah karena hanya untuk memudahkan sebutan saja. Kehadiran Ojol baik ride (motor) atau car (mobil) menjadikan semua serba mudah, karena ojeknya akan menghampiri ke rumah, dan tidak lagi pesan kepada tetangga, “tolong dipanggilkan ojek disana”, cukup buka aplikasi android klik-klik, mau kemana, dijemput dimana, sudah nampak ongkos yang harus dibayarnya.

Anjungan Bandar Udara Internasional Ahmad Yani di Semarang 20191219 (Kissparry)

Baca Juga : Era Disrupsi, Revolusi Industri 4.0, Exponential Era

Sore ini salah satu stasiun televisi swasta nasional tersebut yaitu Trans 7 menayangkan Ojol Stori disalah satu sesi acaranya. Ada seorang wanita yang naik Ojol alias Ojek Online dari depan rumahnya menuju stasiun kereta api.

Dalam perjalanan menuju stasiun kereta api itu penumpang Ojol seorang wanita tersebut bicara terus diantaranya meminta agar berjalan lebih cepat dan lebih cepat lagi.

Belum sampai diantar sampai tujuan yang ia tahu harus sedikit memutar, penumpang minta turun, kemudian setelah turun langsung lari masih dalam keadaan helm menempel di kepalanya.

Driver Ojol meminggirkan kendaraan mereka kemudian berusaha mengejar helmnya, namun tidak menemukan penumpang tersebut.

Baca Juga : Kisah Eksodan Aceh dan Berjuta Kenangan Perjalanan dari Tanah Rencong NAD

Acara Ojol Stori itu mengingatkan kejadian yang serupa terhadap pengalaman saya saat naik Ojol.

Baca Juga : Anjungan New Bandara Ahmad Yani Semarang Semakin Menarik untuk Dikunjungi

Saat itu saya naik Ojol menuju rumah dari suatu tempat untuk kegiatan rutin, ketika sampai didepan rumah terus turun dan bergegas menuju tangga didepan rumah, karena untuk masuk rumah harus melalui tangga, dan tiba-tiba tukang ojeknya bilang “Bu helmnya”.

Saya memegang kepala, eh iya, lupa, “maaf mas, sampai lupa, seingatku bersama anak saya”, kemudian helm saya lepas dan berikan kepada driver Ojol.

Saya juga menyampaikan terima kasih, “Matur nuwun mas, ngapuntene”.

Inilah sekilas kisah ketika naik Ojol, terkadang memang sedikit ada kelucuan, karena kegiatan rutin itulah yang menyebabkan kita lupa ternyata bersama orang lain, termasuk Ojol.

Terlebih saat menggunakan jasa Ojol sudah melakukan pembayaran didepan sebelum naik kendaraan, kita sudah punya doposit uang pada aplikasi Ojol tersebut, mungkin ini yang menjadikan lupa jika kita bersama mereka.

Deposit kita tanam di pembayaran non-tunai mereka, dengan itu kita sering dapat promo menarik. Saya pernah naik Ojol gratis karena dapat diskon dan saya menggunakan promo, tetapi karena sudah pakai jasanya akhirnya saya kasih uang sekadarnya untuk beli minum (es-jeruk).

Terus terang saya menggunakan jasa GOJEK (Go-Ride, Go-Car, Go-Send) dengan Gopay, karena tidak ingin punya deposit di semua tempat aplikasi, biar tidak boros.

Sekian dulu ya…

Indarsih Weanind
editor Eswedewea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.