Setiap tangga 1 Juni, Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, memang belum lama peringatan itu diadakan dan kali ini baru yang ke-4 kali peringatan.

Suasana peringatan kali ini berbeda, karena ditengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, hal ini juga memengaruhi tema peringatan tahun ini.

“Pancasila dalam Tindakan, Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju”

Mari kita tengok sejenak sejarah lahirnya Pancasila.

Lahirnya Pancasila

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945, dikutip dari Wikipedia.org.

Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wedyodiningratdalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK.

Sejak tahun 2017, tanggal 1 Juni resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari “Lahirnya Pancasila”.

Latar Belakang

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai.

Badan ini mengadakan sidangnya yang pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945).

Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara.

Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila.

Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad atau Perwakilan Rakyat.

Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila”.

Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasardengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut.

Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Mr AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh ‘Lahirnya Pancasila’ ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang.

Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara.”

Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju

Peringatan kali ini mengedepankan “Gotong Royong”. Gotong royong termasuk kata yang sering kita dengar.

Gotong royong berasal dari kata “digotong reroyongan”, diangkat ramai-ramai.

Gotong royong biasanya dekat dengan istilah kerjasama tanpa upah, seperti kerja bakti, gugur gunungarisan tenaga, dan sambatan.

Baca juga : GOTONG ROYONG dalam Nilai Kepatrian

Gotong Royong Bedah Rumah secara mandiri swadaya masyarakat di Dukuh Ngemplak, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali

Karena model kerjasama berupa kerja bakti atau gotong royong itu terjadi berulang-ulang dan bertahun-tahun, jadilah gotong menjadi nilai kearifan lokal di Indonesia.

Sejak pagi mereka para pria dewasa menuju titik kumpul yang telah disepakati. Ibu-ibunya menyusul kemudian sambil mengantarkan kopi di ceret/teko, dan sedikit makanan.

Cara itu bahkan menjadi embrio kegiatan berikutnya. Arisan tenaga pada saat tanam palawija, gotong royong membuat kandang kambing, sambatan saat memasang atap rumah, dan iuran saat tetangganya ada acara sunatan.

Gotong royong membuat jalan (pengerasan jalan)

Dalam suasana dan kondisi seperti sekarang ini GOTONG ROYONG tetap harus yang dikedepankan.

Banyak ragamnya dalam soal gotong royong, yang baru saja ngetren dikalangan kita yaitu Sedekah Berkah, ini sebenarnya merupakan perwujudan dari gotong royong.

Sekian, Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila.

Salam

oleh Eswede Weanind
editor Kissparry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.